Muslim seutuhnya

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa orang-orang kafir bisa bersatu di atas kebatilannya, sedang orang-orang Islam bercerai berai di atas kebenarannya? Jawabannya sederhana sekali: orang kafir baik lahir maupun batinnya kafir. Baik lahir maupun batin mereka yang tersembunyi sama-sama batil.

Mereka bergabung untuk mencapai satu tujuan yakni: menghancurkan Islam. Untuk mencapai tujuannya, mereka menempuh semua cara yang ada dan  dengan segala alat yang ada. Rencana mereka jelas dan tujuan merekapun jelas, maka dari itu, mungkin saja mereka mampu mewujudkan kesatuan diantara mereka.

Adapun orang Islam, kebanyakan diantara mereka, hanya baik di sisi luarnya, namun dalamnya penuh hawa nafsu. Pada lahirnya nampak indah, bagus, bersinar, melakukan ibadah, mengamalkan rukun-rukun Islam dan syiar-syiarnya; namun bagian dalamnya kosong, ruhaninya kosong dari nilai-nilai tersebut. Hatinya miskin dari nilai-nilai luhur tersebut.

Kebanyakan kaum muslimin adalah pengikut hawa nafsu, meski mereka shalat dan shaum. Mereka tidak memelihara hati  disebabkan oleh banyak faktor:

EgoismeHawa nafsu.Cinta kehormatan dan kekayaan yang dimilikinya.Berlaku sombong terhadap kaum muslimin yang lain dan meremehkannya.

Dampak Kesombongan Karena Kurang Tarbiyah

Tatkala petunjuk datang kepada mereka, maka mereka merasa bangga dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka dengan menolak petunjuk yang datang. Kamu dapati seseorang di antara mereka ada yang merasa bahwa tidak ada orang mukhlis lagi di muka bumi selain dirinya. Ia menganggap dirinya di atas semuanya, sesudah membaca dua atau tiga kitab.

Sikap itu akibat ia tidak mendapatkan tarbiyah lewat tangan seorang guru. Tak mendapatkan tangan kasih yang memeliharanya, ataupun sosok berjiwa lurus yang mengarahkannya. Dia merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya, dan menyangka bahwa dirinya telah memiliki dunia, bahwa ia adalah orang yang paling benar.

Jika kamu memberi nasehat atau mengarahkannya, atau memberanikan diri memberitahu kekeliruan dan kebengkokannya, ia akan menatapmu seraya berkata geram di dalam hatinya, “Siapa kamu? Sedangkan ia malu mengatakan terus terang apa yang ada di dalam hatinya padamu.

Apabila masalah ikhlas dibicarakan, ia menganggap dirinya yang paling ikhlas. Apabila amal Islam dibicarakan, dia menganggap dirinya yang paling besar kontribusinya. Jika disebut kata “Du’at” maka ia menganggap dirinya adalah pemimpin kafilah para da’i. Jika disebut-sebut “Ittiba’ Rasul” (pengikut sunnah), ia menganggap dirinya yang paling sunnah. Menganggap dirinya lebih baik dari yang lain. Ini semua karena ia tidak tergembleng di atas ajaran Islam sebagaimana saat diturunkan dahulu.

Sesudah menghafal dua kalimat dari kitab ini dan dua kalimat dari kitab itu, belajar buku tentang rancangan dan strategi Yahudi atau tentang Zionisme, atau tentang adab minum, tidak boleh sambil berdiri atau boleh; lalu menganggap dirinya lebih dari yang lain.

Pemuda yang seperti ini sekali-kali belum pernah belajar. Ia hidup dalam kebodohan, dan akan mati pula dalam kebodohan. Sesungguhnya ia menikam Islam tikaman demi tikaman dengan kebodohannya. Berapa banyak kawan yang bodoh jauh lebih berbahaya daripada lawan yang berakal.

Kalian semua tahu cerita beruang yang membunuh tuannya? Ketika ada seekor lalat hinggap di wajah tuannya yang sedang tidur, ia berusaha mengusirnya, namun sebentar kemudian lalat tersebut kembali lagi. Demikian hal itu terjadi berkali-kali, sehingga si beruang itu marah. Lalu ia mengambil batu besar dan menghantamkannya pada si lalat yang sedang hinggap di wajah tuannya. Maka,  batu itu membunuh si lalat tapi juga membunuh tuannya sekaligus.

Siapakah kamu ini? Adakah kamu sudah bisa membaca Al Qur’an dengan benar? Apa yang kamu tahu dari hukum-hukum ayat Al Qur’an? Apa yang telah kau baca dari fiqih  sunnah? Apa yang kau ketahui dari kaidah-kaidah ushul? Apa yang kau ketahui dari bahasa Arab? Apa yang kau ketahui dari asbabun nuzul? Apa yang kau baca dari induk-induk kitab fiqh? Sekiranya kami mengejarmu dengan pertanyaan, dan kamu berlaku jujur pasti tak sebuah kitabpun dari kitab-kitab itu yang sudah kamu baca. Lalu bagaimana kamu bisa mendaulat dirimu sebagai simbol dunia? Sebagai pemuka mujahidin? Dan sebagai pemimpin bagi mereka yang melangkah di atas jalan Dien ini dari para da’i-da’i yang mukhlis? Engkau telah menjadi seorang alim versi dirimu!

Nabi saw pernah bersabda:

“Akan muncul sekelompok kaum muda usia, lemah akalnya dan bodoh. Mereka keluar dari dien seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka meremehkan shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka”. (HR. Bukhari).

Maka dari itu, jadikanlah kita sebagai seorang muslim seutuhnya. Seorang muslim yang tidak hanya terlihat pada luarnya saja, tetapi juga batinnya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui jati diri kita selain kita sendiri dan tentunya Rabb Pencipta, Allah Ta’ala.

Marilah kita berbenah, jadilah muslim kaafah, jadilah muslim yang benar-benar muslim sebenarnya. Jangan sampai kaum muslimin kehilangan jadi diri hingga terinjak-injak oleh orang kafir yang telah jelas jati dirinya sebagai orang kafir luar dalam. Umat Islam akan kembali jaya jika mereka segera kembali menjadi umat Islam sebenarnya baik secara lahir maupun batinnya. Wallahu a’lam bi shawab.

Diinisiasi dari Tarbiyah Jihadiyah Jilid 6 karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ilah 6 Rahasia Mengapa Orang Minang Selalu Sukses Di Rantau

Langkah Membangaun Kerja Sama Dalam Team yang Efektivr

Mahasiswa yang idealis